provided by: kanomedia prSementara, Indonesia adalah negara kaya sumber daya alam, tetapi masih belum mampu mengelolanya dengan teknologi dan tekad yang sebaik yang dimiliki Jepang. Hubungan persahabatan Indonesia - Jepang yang sudah berjalan selama 50 tahun ini, bisa saling menguatkan, saling menguntungkan, dan diharapkan akan mendorong kesejahteraan kedua belah pihak
Proses alih teknologi menjadi isu penting untuk segera mengejar ketertinggalan. Implementasi tersebut diwujudkan melalui berbagai kerjasama seperti penelitian, riset, pertukaran pelajar, mahasiswa, beasiswa, dan pendanaan proyek-proyek strategis. Proses kerjasama dalam rangka alih teknologi antara pemerintah Indonesia Jepang tidak hanya dilakukan oleh satu lembaga tertentu saja tetapi melibatkan lembaga-lembaga lain seperti BPPT, LIPI, Departemen-departemen pemerintah, Universitas, dan LSM-LSM
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai salah satu lembaga pemerintah memegang peran penting dalam rangka mendukung proses alih teknologi tersebut. Deputy BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi & Material, Dr.Ir.Marzan Aziz Iskandar mengatakan,”Dalam proses ini alih teknologi yang dilakukan antara Indonesia-Jepang sudah cukup baik dan itu biasanya direpresentasikan oleh perguruan tinggi. Misalnya JICA apabila memberikan kesempatan training langsung diserahkan kepada para profesor perguruan tinggi ternama di Jepang. Hal ini dilakukan baik apakah dengan mereka datang ke Indonesia atau kita yang diundang ke salah satu perguruan tinggi disana untuk melakuan riset. Yang disertai kunjungan ke pusat-pusat riset pemerintahan.”
Lebih lanjut Marzan menjelaskan,”Dalam proses alih teknologi, hubungan kerja diantara periset kita dan Jepang itu sangat ketimuran dan hubungan itu sangat tergantung kepada personal relationshipnya. Kalau kita baik, hubungan pribadinya, maka transfer teknologinya juga akan lancar, apapun yang kita minta akan diberikan sama seperti dia memberikan kepada saudaranya sendiri, tapi kalau sudah bicara dengan institusi tidak semudah itu.”
Pada kenyataannya proses alih teknologi juga menemui beberapa kendala, diantaranya adalah faktor bahasa dan etos kerja. Hal ini juga ditegaskan oleh Marzan,”Orang Jepang bahasa Inggrisnya tidak begitu aktif dan kalaupun bicara pronunciation kita dengan Jepang itu beda. Faktor kedua adalah etos kerja. Mereka itu kuat sekali, kalau sudah bekerja sangat keras, dan kita harus menyesuaikan diri, kita butuh waktu untuk itu. Yang lebih penting adalah bagaimana cara memaintain.”
“Biasanya kita mendapatkan pengetahuan yang bagus, teknologinya sudah kita kuasai namun sekembalinya dari Jepang kita tidak punya tempat untuk mengaktualisasikan ilmu dan teknologi tersebut. Di Indonesia kita laboratoriumnya tidak punya seperti yang ada di Jepang, fasilitas tidak ada, insentif pun juga tidak punya. Sehingga secara perlahan kemampuan kita terdegradasi. Nah kalau orang Jepang kan mereka punya kemampuan bisa dimaintain dan terus meningkat sehingga semua environmentnya itu mendukung.”
Alumni Universitas Tokai, Jepang ini juga menyinggung bahwa habit orang Jepang itu adalah kerja kelompok dan tim. “Kalau dia punya keahlian akan membentuk kelompok tertentu dan meningkatkan lagi kemampuannya melalui kompetisi dan kerjasama, kalau kita di Indonesia karena lingkungan kita tidak seperti itu tidak tercipta suasana yang membuat kita ingin mempertahankan dan meningkatkan kemampuan teknologi kita.”
Dari sisi pendanaan untuk pengembangan SDM dan alih teknologi juga masih jauh dari harapan. Jepang menjadikan teknologi sebagai senjata utama mereka memenangkan persaingan global. Sebagai negara Jepang tidak punya pilihan lain yang bisa diandalkan kecuali keunggulan dalam teknologi. Karena itu kata kunci mereka ya penguasaan teknologi. Untuk itu mereka akan mempertaruhkan segalanya demi menghasilkan teknologi unggulan. Hal itu bisa kita lihat dari bagaimana mereka mempersiapkan dan menyusun rencana penelitian, pengembangan, penerapan, rencana pengembangan SDM, universitas, hubungannya perusahaan dengan komunitas, semua itu mengacu kepada visi bahwa mereka itu akan eksis jika menguasai iptek.
Etos kerja itu jauh berbeda dengan Indonesia yang belum sepenuhnya percaya, bahwa kita harus menggantungkan masa depan kita kepada penguasaan Iptek. Karena kita masih punya sumber daya alam. Karena itu keberpihakan kepada penguasaan iptek belum sepenuhnya menjadi tekad bangsa Indonesia. Hal ini misalnya terlihat dari alokasi budget untuk riset, yang hanya 0,18 persen dari GDP, sedangkan Jepang mengalokasikan dana 2 persen dari GDP, belum termasuk dari perusahaan-perusahaan yang mengalokasikan sekitar 2 persenan atau lebih, tergantung dari persaingannya yang harus mereka lakukan. Dan faktanya memang demikian.
Energi Terbarukan Menjadi Fokus Utama!
Sebagai lembaga kajian dan penerapan teknologi, BPPT sangat berkepentingan untuk melakukan kerjasama strategis dengan Jepang. Dan selama ini kerjasama tersebut lebih banyak dilakukan pada sektor energi. Terutama energi terbarukan (energi alternatif).
Menurut Deputy BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi & Material, Dr.Ir.Marzan Aziz Iskandar, kerjasama yang menitik beratkan pada sector pengembangan energi selain minyak ini dimulai pada tahun 80an. ”Hal ini memang wajar karena ketergantungan Jepang kepada pihak luar akan pasokan energi sangat tinggi, termasuk pasokan dari Indonesia khususnya minyak dan batubara. Karena itu mereka ingin melakukan kerjasama dengan Indonesia,” kata Marzan.
Lebih lanjut Marzan mengatakan,”Di BPPT sendiri yang terbesar program kerjasama saat ini adalah kerjasama dalam bidang pengembangan bahan bakar Bio Ethanol yang pabriknya (plan) dibangun di Sulusuban, Lampung Tengah. Pembangunannya dimulai pada tahun 1980an dan selesai pada tahun 1984. Pabrik ini memproduksi singkong menjadi bahan bakar Bio Ethanol. Sekaligus juga yang menandai pertama kalinya Indonesia memperkenalkan energi biofuel yang dikenal sebagai Gasohol (campuran bensin dengan alkohol). Kerjasama ini sangat intensif dan dalam hal ini dari pihak Jepang diwakili oleh JICA.”
Pabrik ini menghasilkan kapasitas produksi Bio Ethanol dengan kapasitas 8ton/hari Secara ekonomis harganya masih lebih mahal daripada premium oleh karena itu produk ini belum diproduksi secara masal. Dan merupakan pilot plan (pabrik percontohan) lebih kepada pengembangan teknologinya bukan untuk komersial. Bio Ethanol digunakan sebagai alternatif campuran bahan bakar minyak (premium). Dan rata-rata menghasilkan efisiensi sekitar 20 persen. Dari 5kg singkong menghasilkan 1 liter ethanol.
Pada tahun 1984 – 1989 kerjasama sektor energi terbarukan yang juga cukup besar dilakukan antara BPPT dengan Japan Coal Energy Center (JCOAL) melalui teknik pencairan batubara (coal liquefaction) dalam hal ini batubara dicairkan dan fungsinya sama seperti BBM atau dikenal sebagai minyak batubara. Bentuknya ada yang seperti premium, bensin, dan diesel. Untuk pilot plan ini Jepang memberikan hibah laboratorium super lengkap senilai 10 milyar rupiah. Ini merupakan pertama kalinya di Indonesia, bahkan sampai sekarang belum ada laboratorium selengkap yang dimiliki BPPT.
Masih memanfaatkan batubara sebagai sumber energi alternative, BPPT juga menjalin kerjasama ekslusive dengan JICA bertajuk Feasibility Study of Banko Coal, dengan mengunakan teknologi Gasification Molten Iron Bed Process (pilot plant), jenis kerjasama ini merupakan hibah dengan nilai total sebesar 2 juta US$. Targetnya adalah pemanfatan batubara kualitas rendah menjadi BBM sintetis (methanol untuk transportasi) dengan mengunakan Clean Coal Technology. Coal Gasification merupakan teknik terbaru untuk mengubah batu bara menjadi produk gas. Dan saat ini pabriknya ada di Serpong (PUSPITEK) Banten, tetapi masih dalam tahap ujicoba.
Ada lagi kerjasama pengembangan turbin uap yang menggunakan prinsip combine circle, untuk menghasilkan putaran turbin dengan teknologi terbaru yang lebih efisien. Ini merupakan kerjasama BPPT dengan NEDO (New Energi Development Organization- sebuah organisasi yang dibentuk pemerintah Jepang untuk memberikan bantuan dalam program pengembangan energi terbarukan) dan Pabrik Kertas Basuki Rahmat di Bayuwangi.. Dan yang tidak kalah besar adalah kerjasama BPPT dengan PLTU Ombilin melalui program DESOX, untuk menetralisasi gas buang dari PLTU batubara yang biasanya banyak mengandung sulfur dan memicu terjadinya hujan asam yang berbahaya bagi lingkungan. Proses kerjanya sederhana, sebelum gas buang dilepas ke udara bebas, lebih dahulu disalurkan ke suatu alat bernama DSOX. SOX apabila terbuang ke awan yang mengandung air akan menjadi asam sulfat dan dengan adanya DESOX, senyawa berbahaya tersebut diubah menjadi kalium sulfat. Dengan kapasitas energi yang dihasilkan berskala 25MegaWatt.
“Model kerjasama-kerjasama ini pada akhirnya adalah hibah, sebagian lagi ada juga yang soft loan (pinjaman lunak). Mengenai porsi penggunaan dananya, ada ketentuan sendiri dari Departemen Keuangan untuk pemakaiannya. Untuk hibah dana dari Jepang 90 persen dan yang 20 persen rupiah. Tidak terlalu ketatlah, sebagian besar hibah seperti laboratoirum pencairan batubara. Itu yang paling lengkap di Indonesia,” pungkas Marzan.
Dari beberapa pilot plan hasil kerjasama antara BPPT dengan lembaga, LSM dan Universitas di Jepang, banyak menghasilkan tenaga ahli Indonesia yang mumpuni Selain mendedikasikan ilmunya untuk riset di BPPT, mereka juga banyak yang diminta bantuannya ke perusahaan-perusahaan publik seperti Medco dan beberapa perusahaan lain. Mereka juga membangun pabrik untuk proyek-proyek percontohan.(heri)
Data& Fakta
Beberapa kerjasama antara BPPT dengan Pemerintah Jepang.
- Tahun 1984 – 1989
Feasibility Study of Banko Coal, mengunakan teknologi Gasification Molten Iron Bed Process (pilot plant) , jenis kerjasama Hibah antara BPPT dengan JICA-Jepang nilai sekitar 2 juta US$. Pemanfatan batubara kualitas rendah menjadi BBM sintetis (methanol untuk transportasi) dengan mengunakan Clean Coal Technology. - Tahun 1990 – 1994
Joint Research Semi Dry Type Flue Gas Desulphurization mengunakan pilot plat DeSOx antara BPPT, PTBA dan CCUJ – Jepang dengan nilai sekitar 1 juta US $. Kajian Clean Coal Technology pengurangan SOx pada gas buang boiler batubara. - Tahun 1994 – 2003
Implementation of Technology CFB Boiler dengan mengunakan fasilitas hibah Demo Plant CFB Boiler kapasitas 30 Ton/jam uap superheated 40 bar, temperature 450 C. Kerajasama antara BPPT, NEDO, CCUJ, PT.KBR, nilai hibah jepang 7,12 juta US $, sharing dana pembangunan PT.KBR 10 Millyar rupiah. Kajian Clean Coal Technology dengan mengunakan batubara kualitas rendah. - Tahun 1992
Feasibility Coal Water Mixture di Kalimantan Selatan antara BPPT dengan JGC-Jepang.
(kanomedia/foto: corbis / data: Deputy BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material-TIEM)
No comments:
Post a Comment